LIKA-LIKU
WAKA KURIKULUM: HADAPI DENGAN SENYUMAN
Mohamad
Tofan Hanib
Sekolah sebagai
lembaga memiliki visi misi dan mengemban amanat untuk mencerdaskan anak didik
sebagai generasi penerus bangsa. Hal ini sesuai dengan Tujuan Pendidikan
Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan
Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU Sisdiknas, 2003)
Tujuan
pendidikan nasional tersebut dapat terwujud apabila semua komponen atau stake holder yang ada di sekolah
berjalan secara sinergis sesuai dengan tugas, pokok dan fungsinya
masing-masing. Untuk itu, seyogyanya setiap komponen atau stake holder sekolah memahami dengan baik apa dan bagaimana peran
dan fungsinya di sekolah. Dengan dimotori oleh kepala sekolah selaku pemangku
kebijakan dan manajemen yang baik akan menciptakan sekolah dengan pendidikan
yang berkualitas.
Di sekolah
terdapat beberapa komponen yang saling memengaruhi dalam upaya menciptakan
pendidikan yang berkualitas. Komponen tersebut antara lain kepala sekolah,
guru, tenaga administrasi, siswa, manajemen, kurikulum, dan sarana prasarana.
Komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan
dalam lingkup suatu lembaga sekolah. Komponen-komponen tersebut sangat vital
keberadaannya dan tidak boleh hilang keberadaannya atau tidak berfungsi salah
satunya.
Selain
komponen-komponen tersebut, di dalam lembaga sekolah terdapat komponen lain
yang keberadaannya juga tidak bisa kita pungkiri yaitu Jabatan Wakil Kepala
Sekolah. Terdapat empat bidang jabatan wakil kepala sekolah di suatu lembaga
sekolah yaitu: (1) bidang kurikulum, (2) bidang kesiswaan, (3) bidang sarana
prasarana, (3) bidang humas. Keempat bidang tersebut mempunyai spesifikasi
tugas dan fungsi di sekolah. Secara umum tugas keempat jabatan wakil kepala
sekolah yaitu membantu kepala sekolah dalam menjalankan progam-program sekolah sesuai
dengan tujuan sekolah.
Berkaitan dengan
keberadaan wakil kepala sekolah (Waka) khususnya dalam bidang kurikulum.
Jabatan Waka Kurikulum sebagian besar orang menyebutnya sebagai “Jantungnya
sekolah”. Bahkan, bisa dikatakan Waka kurikulum sebagai “Tangan kanan dari
kepala sekolah”. Dengan tidak mengurangi peran penting juga dari Waka bidang
yang lain. Keberadaan waka kurikulum sebagai ujung tombak dalam dinamika dan
kualitas pendidikan di suatu lembaga. Kualitas
pendidikan salah satunya bisa terlihat dari bagaimana program-program inovasi
yang diusung atau dijalankan oleh waka bidang kurikulum.
Menurut Hasan
(2008), tugas pokok dan fungsi Waka bidang kurikulum antara lain: (1) sebagai perencana, meliputi penyusunan
bersama dokumen kurikulum sekolah, prota, promes, program satuan pelajaran, Silabus
dan RPP; (2) sebagai pengorganisasi dan
koordinasi meliputi kegiatan pembagian tugas mengajar dan tugas-tugas
lainnya guru secara merata sesuai dengan bidang keahlian dan minat guru,
penyusunan jadwal pembelajaran, jadwal kegiatan perbaikan dan pengayaan, jadwal
ekstrakurikuler; (3) sebagai pelaksana, muliputi kegiatan
pengawasan dan pemantauan untuk mengontrol dan membantu guru dalam menemukan
dan mengatasi kesulitan supaya kurikulum berjalan baik; (4) sebagai pengendali, kegiatan ini
meliputi evaluasi kurikulum dalam hal penyediaan informasi tentang pelaksanaan
pengembangan kurikulum, mengembangkan alternatif pemecahan masalah dalam upaya
perbaikan kurikulum.
Pernahkah anda
menjadi Waka kurikulum?
Sensasi apa yang
anda bisa rasakan dengan lika-liku pengalaman selama menjadi Waka kurikulum.
Manis pahitnya mungkin pernah dirasakan. Apakah lebih banyak menyenangkan atau
tidak menyenangkan tergantung setiap orang di masing-masing lembaga sekolah
berbeda-beda. “Suka tidak suka”, “mau tidak mau” tidak ada pilihan dan harus dihadapi dalam melaksanakan tugas dan
kewajiban dengan baik dan tanggung jawab. Hal ini juga yang dialami penulis
dalam menjabat sebagai Waka kurikulum selama 8 tahun dan ingin berbagi dengan
pembaca.
Fakta yang ada,
tidak selamanya program-program dari bidang kurikulum dapat berjalan mulus dan
tanpa hambatan. Ada kalanya kegiatan kurikulum berjalan baik sesuai dengan yang
direncanakan. Namun, ada juga kegiatan yang kurang berjalan tidak sesuai dengan
tujuan dan program yang diharapkan. Untuk hal itu, perlu adanya evaluasi dan
refleksi bersama terkait pelaksanaan program-program sekolah. Evaluasi
dilakukan dalam upaya mewujudkan tujuan sekolah dan mengembangkan sekolah yang
berkualitas, dinamis dan kondusif sehingga memberikan rasa nyaman bagi siswa
untuk belajar di sekolah.
Berdasarkan pengalaman penulis dan sharing
dengan berbagai rekan-rekan sejawat Waka kurikulum, berbagi pengalaman dengan
pembaca khususnya para guru. Permasalahan-permasalahan yang sering muncul
antara lain: (1) pembagian tugas mengajar dan penyusunan jadwal pelajaran; (2)
pelaksanaan kegiatan KBM di kelas; (3) kegiatan penilaian sekolah meliputi
penilaian akhir semester; (4) kegiatan supervisi dan monitoring kelas; (5)
kegiatan MGMP rumpun mata pelajaran di sekolah maupun MGMP kabupaten.
Pada awal tahun
pelajaran, waka kurikulum disibukkan dengan pembagian tugas guru mapel dan BK
dan penyusunan jadwal pelajaran. Dengan arahan dan petunjuk dari kepala
sekolah, waka kurikulum merancang dan menyusun tugas-tugas guru sebelum awal
tahun pelajaran dimulai disesuaikan dengan aturan Permendiknas dan potensi guru
yang ada . Temuan dilapangan, keinginan guru ingin selalu mendapatkan tugas
mengajar di kelas yang unggul dengan siswa yang tidak berpotensi masalah atau
nakal. Guru tidak mau dipusingkan dengan siswa-siswa yang bermasalah dalam hal
perilaku belajar di kelas.
Dalam penyusunan
jadwal pelajaran, Waka kurikulum mendesain sesuai dengan prinsip keadilan,
kebutuhan dan potensi guru yang ada. Namun, selalu ditemukan guru yang tidak
puas dan berupaya merubah jadwal menyesuaikan dengan keinginannya. Keinginan guru
untuk mengajar hanya di jam-jam pagi, tidak mau diplotkan jam-jam siang, tidak
mau kalau ada jam mengajar yang kosong ditengah, minta kosong atau libur satu
hari. Dengan berbagai macam alasan seperti ingin pulang lebih awal, ada acara
yang sudah rutin diagendakan pada hari-hari tertentu, capek dan tidak maksimal
kalau mengajar siang
Dalam
pelaksanaan kegiatan kurikulum khususnya dalam kegiatan KBM, terdapat
temuan-temuan permasalahan seperti guru yang sering tidak masuk dengan berbagai
macam alasan. Tidak ada beban dan “santai” meninggalkan kewajiban mengajar
bahkan tidak meninggalkan tugas apapun mandiri ke siswa. Kebiasaan telat masuk
kelas, sering keluar sebelum bel pelajaran berakhir, meninggalkan kelas untuk
hal-hal yang kurang perlu seperti ngobrol dengan guru di kelas sebelahnya,
ngobrol dikantor. Adanya fenomena guru yang yang menyibukkan diri untuk hal-hal
yang kurang penting dan meninggalkan jam mengajar dikelas.
Dalam hal
kegiatan penilaian akhir semester, banyak ditemukan guru yang belum tertib
administrasi seperti soal yang tidak disertai kisi-kisi, pengumpulan soal
dan nilai yang tidak tepat waktu.
Banyaknya nilai-nilai siswa yang bermasalah pada saat-saat terakhir pengisian
nilai tanpa melalui proses remidial sebelumnya. Supervisi dan monitoring yang
belum berjalan optimal sehingga kontrol terhadap kinerja guru dalam
pembelajaran di kelas lemah. Guru cenderung mengajar seadanya, tidak
beorientasi pada perangkat pembelajaran dan hanya pada buku teks, belum
memiliki perangkat pembelajaran yang lengkap sesuai dengan tuntutan pengembangan silabus RPP di Permendiknas
Standar isi dan proses. Selain itu, MGMP rumpun mapel kurang berjalan baik dan
belum difungsikan sebagai media diskusi dan berbagi guru dalam pembelajaran.
Dengan begitu kompleksnya
permasalahan dalam kurikulum dituntut seorang Waka kurikulum yang harus
benar-benar berjiwa besar, sabar, dan luwes dalam menghadapi guru-guru dengan
segala permintaan dan kebutuhannya. “Hadapi semuanya dengan senyuman”, salah
satu kunci yang pernah diterapkan dalam upaya menyelesaikan
permasalahan-permasalahan kurikulum di sekolah. Menghadapi guru dengan sabar
dan bersama-sama mencari solusi apabila ada permasalahan guru dalam
pembelajaran di kelas. Perlunya musyawarah bersama mencapai mufakat, evaluasi
secara rutin dan berkala semua stake
holder sekolah sangat diperlukan dalam upaya mencari solusi dari
permasalahan yang ada.
Semua komponen
sekolah bahu membahu dan bersinergis untuk menciptakan budaya dan iklim sekolah yang baik, nyaman, dan
menyenangkan. Dalam upaya bersama-sama mewujudkan visi, misi dan tujuan
sekolah. Seyogyanya semua komponen berupaya untuk selalu memperbaiki diri,
meningkatkan kompetensi dan kinerja. Guru tidak sekedar hanya menggugurkan kewajiban
mengajar dan mencari nafkah semata. Namun dibalik itu ada motivasi dan
keinginan yang besar untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikan. Mengabdikan
dan mendedikasikan sepenuh hati untuk mencerdaskan anak bangsa. Semoga apa yang
kita lakukan bisa menjadi tambahan nilai ibadah dan mendapatkan ridha-Nya.
Aamiin.
Daftar
Rujukan
Depdiknas. 2003. Undang-undang RI No.20
tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Hasan, H. 2008. Evaluasi
Kurikulum. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung
Comments
Post a Comment