PENINGKATAN KETERAMPILAN
PROSES SAINS
MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN POGIL
(Process
Oriented Guided Inquiry Learning)
Mohamad Tofan Hanib, Suhadi, Sri Endah Indriwati
Program Studi Pendidikan Biologi
Universitas Negeri Malang
Abstrak: Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains siswa melalui
model pembelajaran POGIL (Process
Oriented Guided Inquiry Learning). Jenis penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan 2 siklus dengan setiap siklus
terdiri diri 4 tahapan (perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, refleksi). Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan angket. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan keterampilan proses sains siswa
melalui model pembelajaran POGIL.
Kata
Kunci : Keterampilan proses sains siwa, Process
Oriented Guided Inquiry Learning, POGIL
Pendidikan saat
ini mengalami perkembangan dan pergeseran kearah pembelajaran konstruktivis. Pendekatan
konstruktivis mengarah pada pembelajaran
siswa aktif dalam membangun konsep atau pengetahuannya sendiri. Guru memiliki
peran sebagai fasilitator dan motivator. Dalam hal tersebut, guru diharapkan mampu menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa sehingga siswa tidak merasa dipaksa
untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Pembelajaran akan berhasil sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai apabila seorang guru mampu menerapkan pendekatan
dan metode pembelajaran yang dikuasainya. Karena itu, seorang guru dituntut untuk
menguasai berbagai model pembelajaran dan mampu mengaplikasikannya dengan baik
di dalam kelas. Seorang guru harus selalu mengacu paradigma baru dalam merancang
suatu perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dengan baik. Guru dalam memilih
model khususnya pembelajaran biologi pada jenjang pendidikan menengah harus
tetap mengacu pada fungsi pendidikan biologi di SMA yaitu mengembangkan
keterampilan proses sains dan menguasai konsep untuk bekal hidup di masyarakat
dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Puskur, 2006). Untuk
itu guru diharapkan kreatif dalam mengembangkan aktivitas yang mampu mendorong
siswa membangun pengetahuan dan
pemahaman mereka secara mandiri.
Fakta
di lapangan menunjukkan banyaknya permasalahan-permasalahan yang dialami oleh
siswa dan kendala-kendala yang dihadapi oleh guru khususnya dalam pembelajaran
biologi di sekolah menengah. Berdasarkan observasi dalam pembelajaran di SMAN 1
Torjun, siswa belum banyak mengembangkan keterampilan proses sains melalui
kegiatan pengamatan atau eksperimen yang menarik dan menantang. Kegiatan
pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi dan memberikan kontribusi
yang sedikit dalam mengembangkan keterampilan proses sains. Keterampilan proses
sains seyogyanya perlu banyak dilatih dan dikembangkan dalam pembelajaran
biologi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Trianto (2011:143) yang menyatakan
bahwa keterampilan proses sains dalam pembelajaran IPA/Biologi perlu dilatih
untuk membantu siswa belajar mengembangkan pikirannya. Siswa diberikan
kesempatan untuk melakukan penemuan, meningkatkan daya ingat, memberikan
kepuasan intrinsik bila anak telah berhasil melakukan sesuatu dan membantu
dalam mempelajari konsep sains.
Bedasarkan
wawancara dan observasi yang dilakukan dengan guru biologi SMAN 1 Torjun
menunjukkan bahwa dalam pembelajaran biologi di kelas X guru cenderung lebih
banyak menggunakan model pembelajaran langsung. Model pembelajaran langsung dalam
arti guru lebih banyak berceramah dan mendominasi dalam kegiatan pembelajaran.
Guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara langsung
dan siswa cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa hanya menunggu
penjelasan dari guru, kemudian mencatatnya, dan siswa kurang dilibatkan dalam
kegiatan penyelidikan, hanya dijelaskan bagaimana seorang ilmuwan melakukan
penyelidikan. Hal tersebut diperkuat dengan angket yang disebar kepada siswa hasilnya
menunjukkan bahwa sebanyak 31 siswa (88,6%) tidak pernah melakukan penyelidikan
seperti kegiatan observasi, identifikasi permasalahan, penetapan hipotesis,
analisis data dan menguji hipotesis dalam pembelajaran biologi.
Berdasarkan
paparan tersebut, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang tepat,
melibatkan siswa secara aktif dan lebih bermakna bagi siswa dalam mengembangkan
keterampilan proses sains. Model pembelajaran yang dikembangkan dan sesuai
dengan hakikat sains (biologi) dalam mengembangkan keterampilan proses sains
yaitu model pembelajaran POGIL (Process
Oriented Guided Inquiry Learning). POGIL merupakan pengembangan dari model guided inquiry yang menggabungkan
inkuiri terbimbing dan pendekatan kooperatif. Pertimbangan dalam penelitian
ini menekankan bahwa dengan POGIL akan
memberikan pengalaman belajar secara langsung, pengembangan keterampilan proses
dan sikap ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir dalam membangun konsep
sains secara mandiri. Hal tersebut diperkuat dari penelitian Bilgin (2009:1041)
yang menunjukkan bahwa model pembelajaran guided
inquiry memiliki pengaruh positif terhadap pengembangan kinerja siswa. Hal
yang sama dikemukakan oleh Moog dan Spencer (2010) bahwa POGIL memiliki
karakteristik dapat mengembangkan keterampilan proses dan tidak semata-mata
tergantung pada fasilitasi kegiatan di kelas atau laboratorium.
Model
pembelajaran POGIL meliputi 3 tahapan yaitu: eksplorasi, pembentukan konsep dan
aplikasi. Pada tahap pertama ekplorasi, siswa melakukan kegiatan seperti
pengamatan, desain eksperimen, mengumpulkan, memeriksa, dan menganalisis data
atau informasi menyelidiki hubungan dan uji hipotesis. Pada tahap kedua
pembentukan konsep, siswa berpikir krtitis dan analitis dalam membangun konsep
yang dipelajarinya. Pada tahap ketiga aplikasi, siswa dilibatkan dalam
penggunaan pengetahuan yang baru dalam latihan, masalah dan bahkan situasi
penelitian. Melalui kegiatan pembelajaran ini, siswa dapat bekerjasama dalam
tim dalam membangun dan membangun pemahamannya serta menerapkan dalam bentuk
pengetahuan yang baru (Zawadzki, 2010:69).
Berdasarkan
permasalahan yang telah diuraikan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian
tindakan kelas dengan tujuan penelitian untuk mengetahui peningkatan
keterampilan proses sains melalui model pembelajaran POGIL di kelas X SMAN 1
Torjun
METODE
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) didukung
dengan wawancara, angket
dan observasi. Penelitian ini dilaksanakan di
kelas X-1 SMAN 1 Torjun
Sampang pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Sekolah ini beralamat
Jalan Raya Torjun, Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Provinsi Jawa
Timur. Subjek penelitian ini didasarkan dengan kondisi riil permasalahan di kelas X-1.
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus.
Siklus dalam melakukan PTK secara skematik tahap-tahap dan prosedur pelaksanaan
disajikan pada Gambar 1.
|
Perencanaan
|
|
Pengamatan
|
|
SIKLUS
1
|
|
Pelaksanaan
|
|
Refleksi
|
|
Perencanaan
|
|
Pengamatan
|
|
SIKLUS
2
|
|
Pelaksanaan
|
|
Refleksi
|
|
Observasi
dan refleksi awal
|
|
Pelaporan
dan Hasil Penelitian
|
Gambar.
1 . Skematik
Tahap-tahap dan Prosedur Pelaksanaan (Sumber:
Arikunto, 2010:137)
Instrumen yang dipakai adalah a) lembar observasi keterlaksanaan
pembelajaran yang digunakan untuk melihat keterlaksanaan tahapan POGIL dan
kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Observasi dilakukan selama
kegiatan pembelajaran dan dilakukan oleh observer, b) lembar observasi
keterampilan proses sains, c) lembar pedoman wawancara yang merupakan panduan
bagi guru untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan. Teknik
pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi berupa lembar observasi
kegiatan pembelajaran dan observasi kinerja siswa.
Analisis data kegiatan guru dan
siswa dalam proses pembelajaran menggunakan lembar observasi yang dilakukan
pada setiap pertemuan ketika proses KBM berlangsung. Data yang diperoleh berupa
data kualitatif dan dikonversi ke dalam bentuk penskoran kuantiatif berdasarkan
hasil pengamatan observer selama proses pembelajaran berlangsung di setiap
pertemuan.
HASIL
Penelitian ini diawali dengan kegiatan observasi melalui
metode angket, wawancara, pengamatan pembelajaran pada bulan Januari – Mei 2016
di SMAN 1 Torjun. Observasi yang dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi
permasalahan-permasalahan yang terjadi di kelas X yang diangkat untuk menjadi
kajian penelitian. Berdasarkan hasil observasi, diidentifikasi permasalahan yaitu siswa belum terlatih dalam
mengembangkan keterampilan proses sains melalui kegiatan pengamatan, observasi
lapangan dan eksperimen yang menantang. Permasalahan yang berhasil
diidentifikasi selanjutnya menjadi dasar peneliti untuk melakukan kajian
penelitian dan berdiskusi dengan observer untuk membahas penelitian yang akan
dilakukan.
Penelitian ini terdiri dari siklus I dan II meliputi
empat tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan
refleksi. Pada kegiatan perencanaan tindakan dilakukan berdasarkan observasi
awal. Rencana tindakan meliputi langkah-langkah antara lain: (a) mempersiapkan
instrumen penelitian meliputi silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
Lembar Kerja Siswa (LKS), lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar
observasi keterampilan proses sains. Selanjutnya, pada tahap pelaksanaan tindakan mengacu pada
sintaks pembelajaran POGIL meliputi beberapa tahap, antara lain: (a) orientation, guru memotivasi belajar dan
menggali pengetahuan siswa dengan
menayangkan video pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran kemudian
menugaskan siswa untuk merumuskan permasalahan-permasalahan berdasarkan video
dan LKS; (b) exploration, siswa
melakukan kegiatan pengamatan, merancang eksperimen, mengumpulkan, memeriksa,
menganalisis data atau informasi, menyelidiki hubungan, mengusulkan pertanyaan
dan uji hipotesis; (c) concept formation,
siswa mempresentasikan dan mengkomunikasikan hasil pengamatan dan diskusi
kelompok; (d) application, siswa
menerapkan pemahaman baru dalam konteks yang berbeda; (e) closure, siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran dan melakukan
refleksi pembelajaran.
Pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II dilaksanakan
lima pertemuan. Materi yang dipelajari adalah KD 3.9 Menganalisis
informasi/data dari berbagai sumber tentang ekosistem dan semua interaksi di
dalamnya dan KD 3.10 Menganalisis data perubahan lingkungan dan dampak dari
perubahan lingkungan tersebut bagi kehidupan. Keterlaksanaan sintaks
pembelajaran guru dan siswa menggunakan model POGIL menggunakan lembar
observasi yang diamati oleh tiga orang observer. Rata-rata keterlaksanaan
pembelajaran menggunakan model pembelajaran POGIL mengalami peningkatan dari
siklus I ke siklus II sebesar 17,9% yaitu pada siklus I keterlaksanaan
pembelajaran sebesar 78,4% meningkat
menjadi 96,3% pada siklus II. Rata-rata keterlaksanaan model pembelajaran POGIL
pada siklus I dan II dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.
Rata-Rata Keterlaksanaan Model Pembelajaran
POGIL siklus I dan II
|
No
|
Tahap
|
Siklus Ke / Rata-rata Persentase
|
|
|
Siklus I
|
Siklus II
|
||
|
1
|
Orientation
|
100
|
100
|
|
2
|
Exploration
|
67
|
82
|
|
3
|
Concept Formation
|
67
|
100
|
|
4
|
Application
|
83
|
100
|
|
5
|
Closure
|
75
|
100
|
|
Rata-rata
|
78,4
|
96,3
|
|
Hasil
penelitian menunjukkan rata-rata observasi keterampilan proses sains siswa mengalami peningkatan dari siklus
I ke siklus II sebesar 8,5. Pada siklus I sebesar 77 dengan rincian siswa yang
mendapatkan nilai ≤
70
sebanyak 10
siswa, sedangkan yang mendapatkan nilai ≥ 70 sebanyak 25
siswa. Ketuntasan klasikal sebesar 71,42 artinya untuk nilai keterampilan pada
siklus I belum tuntas. Hasil rata- rata observasi
keterampilan proses sains siswa pada siklus II sebesar 85,5 dengan ketuntasan
klasikal sebesar 100% artinya untuk nilai keterampilan pada siklus II dikatakan tuntas semua. Berdasarkan
indikator keberhasilan, ketuntasan klasikal dikatakan tuntas jika kelas
terdapat 85% yang telah mencapai ≥ 70. Rata-rata
observasi keterampilan proses sains dan ketuntasan klasikal siklus I dan II
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rata-Rata Observasi Keterampilan Proses Sains
dan Ketuntasan Klasikal siklus I dan II
|
No
|
Data Penelitian
|
Siklus
|
|
|
Siklus I
|
Siklus II
|
||
|
1
|
Rata-rata observasi keterampilan proses sains
|
77
|
85,5
|
|
2
|
Ketuntasan
klasikal
|
71,42%
|
100%
|
PEMBAHASAN
Berdasarkan
paparan data dan hasil penelitian, penerapan model pembelajaran POGIL dapat
meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Peningkatan rata-rata observasi
keterampilan proses sains dan ketuntasan klasikal siklus I dan II bisa dilihat
pada Grafik 1.
Grafik 1
Peningkatan Rata-rata Observasi Keterampilan Proses Sains dan Ketuntasan
Klasikal
Pembelajaran
dengan model POGIL dapat meningkatkan
keterampilan proses sains. Hal ini dibuktikan dari data hasil observasi siklus
I dan siklus II yang mengalami peningkatan rata-rata observasi keterampilan proses
sains sebesar 10,2. Untuk peningkatan persentase ketuntasan klasikal sebesar
28,6%. Keterampilan proses
sains pada penelitian ini mengukur pada aspek observasi, menafsirkan,
merencanakan penelitian, berkomunikasi dan mengajukan pertanyaan. Pada siklus I, siswa mampu melakukan
observasi, menafsirkan dan merencanakan penelitian dengan baik, menggunakan
seluruh indera untuk mengumpulkan data pengamatan dengan benar. Dalam hal
kemampuan menafsirkan hasil pengamatan, siswa sudah mampu menjelaskan suatu
pengamatan atau pernyataan yang masuk akal/logis sampai pada menghasilkan
kesimpulan yang tepat. Siswa mampu juga merencanakan penelitian sesuai dengan
prosedur ilmiah yang benar. Pada siklus II mengalami peningkatan keterampilan
proses sains khususnya aspek komunikasi lisan dan mengajukan pertanyaan. Siswa
sudah mampu berkomunikasi secara lisan dengan baik dan benar dengan bimbingan
dan motivasi guru. Siswa juga mampu mengajukan pertanyaan yang baik dengan
latar belakang hipotesis.
Faktor yang menyebabkan peningkatan tersebut adalah karena
model pembelajaran POGIL merupakan model pembelajaran yang dikembangkan sesuai
dengan hakikat sains sebagai proses dan sains sebagai produk. Model
pembelajaran POGIL merupakan pengembangan dari inkuiri. Dengan pembelajaran
inkuiri, siswa belajar memecahkan permasalahan atau mengungkap suatu fenomena
alam secara ilmiah. Biologi sebagai bagian dari ilmu sains menuntut proses
pembelajaran berbasis ilmiah. Proses pembelajaran berbasis ilmiah melibatkan
berbagai keterampilan proses sains. Model pembelajaran ini memberikan ruang
bagi guru untuk membimbing dan siswa untuk memperoleh pengetahuan dengan
menggunakan metode ilmiah seperti layaknya seorang ilmuwan. Keterampilan proses
merupakan bagian penting dari sains karena mewakili rasionalitas dan kemampuan
berpikir logis dalam memanfaatkan sains. Kompetensi dalam keterampilan proses
memungkinkan siswa untuk bertindak atas informasi yang diperolehnya dalam
menyelesaikan masalah (Burns, dkk., 1985:170).
Dalam setiap tahapan model pembelajaran POGIL, siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan
pembelajaran khususnya pada tahap exploration,
concept formation dan application.
Siswa aktif melakukan kegiatan observasi, menemukan permasalahan, membuat
hipotesis, melakukan ekplorasi, pengamatan, mengumpulkan data, menganalisis
data, menyimpulkan dan mengkomunikasikan dengan baik. Hal ini diperkuat dari
wawancara dan respon siswa terhadap pembelajaran POGIL. Secara keseluruhan
siswa bersemangat dan antusias untuk mengikuti pembelajaran khususnya dalam
kegiatan observasi ekosistem di sekolah seperti hutan sekolah, TOGA, karang
kitri dan taman sekolah.
Keterlibatan siswa secara aktif selama kegiatan
pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas akan berpengaruh positif dalam
membangun pengetahuan secara mandiri (student
center). Siswa akan lebih mudah memahami konsep dengan baik. Pernyataan
yang sama dikemukakan oleh Simonson dan Shadle (2013:4) bahwa pembelajaran
POGIL dapat meningkatkan retensi pengetahuan, berpikir tingkat tinggi dan
keterampilan proses. Hal tersebut diperoleh melalui kegiatan ketika siswa
menggali informasi, berpikir, analisis data, diskusi ide, menyimpulkan dan
membangun pengetahuan melalui kerjasama dalam tim. Penelitian yang serupa
dilakukan oleh Ningsih, dkk. (2015:1) dan Mohamed (2008) pembelajaran POGIL dapat mengaktifkan siswa
dalam pembelajaran dan meningkatkan keterampilan proses siswa.
Pada tahap orientation,
siswa mampu mengembangkan aspek keterampilan proses sains seperti
observasi, menafsirkan pengamatan melalui kegiatan demonstrasi, dan menggali
pengetahuan melalui tayangan video studi kasus ekologi dan perubahan lingkungan.
Pada tahap exploration, siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan aspek
merencanakan penelitian dan berkomunikasi melalui kegiatan identifikasi masalah
dan penetapan hipotesis, pengamatan,
desain eksperimen, mengumpulkan data pengamatan, menganalisis data pengamatan,
menjawab permasalahan dengan mengkaji teori dan menganalisis hasilnya. Pada
tahap concept formation, siswa
dilatih untuk mengembangkan indikator berkomunikasi dan mengajukan pertanyaan
melalui kegiatan presentasi dan mengkomunikasikan hasil pengamatan atau diskusi
di depan kelas. Pada tahap application, siswa
diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan aspek mengajukan
pertanyaan melalui penerapan pengathuan yang diperoleh kedalam pemahaman yang
baru atau konteks yang berbeda.
Dalam pembelajaran POGIL, guru berperan sebagai
fasilitator dalam membimbing dan mengarahkan pembelajaran sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Model pembelajaran POGIL dapat memotivasi siswa untuk dapat
berpartisipasi aktif dan memberikan ruang yang cukup untuk berkreativitas sesuai dengan tuntutan tujuan pembelajaran (learning by doing). Hal yang sama
dikemukakan oleh Hanson (2013) POGIL
dapat membuat siswa aktif dalam proses
pembelajaran dan berdiskusi di dalam kelas. Zawadzki (2010:69) menyatakan bahwa
dalam pembelajaran POGIL siswa dapat bekerjasama dalam tim dan terlibat secara
aktif dalam mencari, menemukan dan membangun dalam bentuk pengetahuan yang
baru. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa POGIL merupakan salah satu
alternatif model pembelajaran yang mendorong siswa untuk dapat lebih
mengembangkan keterampilan proses sains.
SIMPULAN
DAN SARAN
Berdasarkan
hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran POGIL dapat meningkatkan keterampilan proses sains
siswa kelas X SMAN 1 Torjun. Adapun saran dari peneliti sebagai berikut:
1.
Model pembelajaran
POGIL dapat meningkatkan keterampilan proses sains maka model ini dapat
digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran biologi di sekolah menengah.
2.
Guru harus
menguasai dan memahami secara mendalam sintaks model pembelajaran POGIL.
3.
Bagi sekolah,
disarankan untuk sering mengadakan program pelatihan bagi guru-guru untuk
membahas dan mengkaji berbagai model-model pembelajaran agar pengetahuan dan
pemahaman guru semakin bertambah dan mampu menerapkan berbagai model
pembelajaran dengan baik dalam kegiatan pembelajaran.
DAFTAR
RUJUKAN
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka
Cipta
Bilgin, I.2009. The
Effects Of Guided Inquiry Instruction Incorporating A Cooperative Learning
Approach on University Student’s Achievement of Acid and Bases Concepts and
Attitude. Scientific Research and Essay,
(Online), 4 (10): 1038-1046, (http://www.academicjournal.org/sre), diakses 10 Februari
2016
Burns, J., Okey.,J. & Wise, K. 1985.
Development Of An Integrated Process Skill Test: Tips II. Journal of Research In Science Teaching, 22 (2): 169-177
Hanson, D. 2006. Instructor’s Guide to Process-Oriented Guided Inquiry Learning:
Pacific Crest: Lisle, IL.
Minner,
D.D., Levy, A.J. & Century, J.2010. Inquiry based science instruction –
what is it and does it matter? Results from a research synthesis years 1984 to
2002. Journal of Research in Science
Teaching, 47: 474-496.
Mohamed, A.R. 2008. Effect of Active Learning
Varants on Students Perfomance and Learning Perceptions. International Journal for the Scholarshift of Teaching and Learning.
Vol. 2. No. 2. July 2008
Moog, R. & Spencer, J. 2008. POGIL: An Overview. In R. Moog, & J. Spencer. Eds. Process-Oriented Guided Inquiry Learning
(POGIL) (pp.1-13), Washington DC: American Chemical Society.
Ningsih, P.E., Siswoyo & Astra,
I.M. 2015. Pengaruh Metode POGIL (Process Oriented Guided Inquiry Learning)
terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Materi Suhu dan Kalor Kelas X SMA.
E-Journal. Vol IV. (Online), diakses
tanggal 22 Maret 2016
Puskur.2006. Panduan Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu. Jakarta: Pusat
Kurikulum, Balitbang Depdiknas
Simonson,
S.R & Shadle, S,E.2013. Implementing
Process Oriented Guided Inquiry Learning
(POGIL) in Undergraduate Biomechanics: Learned by A. Novice. Journal of STEM Education. Vol. 14 Issue 1.
Trianto.
2011. Mendesain Model
Pembelajaran Inovatif-Progresif.
Jakarta: Kencana Prenada
Media Group
Zawadski, R. 2010. Is Process-Oriented Guided-Inquiry Learning (POGIL) Suitable As A
Teaching Method In Thailand’s Higher Education?. Asian Journal on Education and Learning. 2010, 1(2), 66-74
Comments
Post a Comment